Uptodai.com - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatatkan pencapaian gemilang melalui imbal jasa Tokopedia GOTO 2025 yang diproyeksikan menyentuh angka Rp820 miliar. Perolehan fantastis ini menjadi bukti nyata keberhasilan transformasi bisnis perusahaan setelah mengintegrasikan Tokopedia dengan ekosistem TikTok. Manajemen GOTO menegaskan bahwa pendapatan dari pos imbal jasa e-commerce ini terus menunjukkan tren positif seiring meningkatnya aktivitas belanja digital di tanah air.

Skema imbal jasa ini mulai berjalan efektif sejak Tokopedia resmi berada di bawah naungan TikTok. GOTO, yang kini bertindak sebagai pemegang saham minoritas, tetap mendapatkan aliran pendapatan rutin melalui fee layanan yang dihitung berdasarkan persentase berjenjang dari Gross Merchandise Value (GMV). Model bisnis ini memungkinkan GOTO untuk tetap mendulang cuan tanpa harus menanggung beban operasional e-commerce yang besar.

Sebagai kilas balik, pada tahun buku 2024, GOTO mengantongi imbal jasa sekitar Rp690 miliar untuk periode 11 bulan. Jika dikurangi dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), angka bersih yang diterima perusahaan mencapai Rp622 miliar. Pertumbuhan yang terjadi pada tahun 2025 mencerminkan sinergi yang semakin matang antara platform Tokopedia dan Tokopedia Shop di dalam aplikasi TikTok.

Loncatan EBITDA dan Efisiensi Operasional GOTO

Selain pendapatan dari fee e-commerce, perusahaan juga berhasil melampaui pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk tahun 2025. Realisasi EBITDA GOTO mencapai Rp2 triliun, angka yang melampaui target awal di kisaran Rp1,8 triliun hingga Rp1,9 triliun. Pencapaian ini menandakan bahwa strategi efisiensi dan fokus pada profitabilitas mulai membuahkan hasil yang konkret bagi para pemegang saham.

Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, menyatakan bahwa perusahaan mencatatkan kinerja yang sangat kuat sepanjang kuartal keempat tahun 2025. GTV inti perusahaan mengalami peningkatan sebesar 49% secara tahunan, sebuah angka pertumbuhan yang signifikan di tengah persaingan ketat. Hans optimistis bahwa momentum pertumbuhan ini akan terus berlanjut hingga tahun-tahun mendatang dengan strategi yang lebih tajam.

Untuk tahun buku 2026, GOTO menetapkan target pedoman EBITDA yang jauh lebih tinggi, yakni naik sekitar 59% hingga 69%. Target tersebut berada di rentang Rp3,2 triliun sampai Rp3,4 triliun. Perusahaan yakin bahwa integrasi layanan keuangan dan layanan on-demand akan menjadi mesin pertumbuhan utama yang menggerakkan nilai perusahaan ke level yang lebih tinggi.

Fokus pada Segmen Mass Market dan Teknologi Finansial

Unit bisnis On-Demand Services (ODS) yang membawahi Gojek diprediksi akan mengalami akselerasi pendapatan pada paruh kedua tahun ini. GOTO terus meningkatkan kemampuan teknologinya untuk melayani segmen mass market dengan lebih efisien dan terjangkau. Langkah ini diambil guna memperluas jangkauan pengguna di luar kota-kota besar yang selama ini menjadi basis utama perusahaan.

Hans Patuwo menambahkan bahwa perusahaan akan tetap fokus memberikan solusi nyata yang sesuai dengan kebutuhan harian konsumen. Investasi pada kapabilitas utama tetap menjadi prioritas agar layanan Gojek tetap relevan dan kompetitif. Hal ini mencakup pengembangan fitur-fitur baru yang memudahkan mobilitas serta pengiriman barang bagi jutaan pengguna aktif setiap bulannya.

Di sisi lain, unit bisnis Financial Technology (Fintech) juga mencetak rekor baru dengan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp226 miliar pada kuartal terakhir 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh adopsi layanan pembayaran digital dan produk pinjaman yang semakin luas di dalam ekosistem GOTO. Sinergi antara GoPay dan layanan perbankan digital menjadi kunci utama dalam mendongkrak margin keuntungan di sektor ini.

Kesehatan Arus Kas dan Pertumbuhan Pendapatan Bersih

Direktur Keuangan Grup GoTo, Simon Ho, menekankan bahwa perusahaan terus berupaya menyeimbangkan pertumbuhan pendapatan (top-line) dengan peningkatan profitabilitas (bottom-line). Rekor EBITDA yang diraih merupakan hasil dari disiplin biaya yang ketat serta pemanfaatan operating leverage yang positif. Simon memastikan bahwa struktur biaya perusahaan kini jauh lebih ramping dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru, GOTO membukukan pendapatan bersih grup senilai Rp5 triliun pada kuartal IV/2025, atau tumbuh 19% secara tahunan. Jika dihitung selama setahun penuh, total pendapatan bersih melonjak 24% menjadi Rp18,3 triliun. Kenaikan ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat terhadap layanan digital masih sangat kuat dan terus berkembang.

Arus kas bebas yang disesuaikan juga menunjukkan angka yang menggembirakan, yakni mencapai Rp966 miliar untuk sepanjang tahun 2025. Kondisi likuiditas yang sehat ini memberikan fleksibilitas bagi GOTO untuk melakukan ekspansi strategis tanpa harus bergantung pada pendanaan eksternal. Dengan fundamental yang semakin kokoh, GOTO siap menghadapi tantangan ekonomi global di masa depan.