Satelit NASA Rekam Warna Laut Berubah Drastis di Bawah Indonesia
Uptodai.com - Sebuah fenomena visual yang mencolok terekam oleh instrumen milik Amerika Serikat. Satelit menangkap momen ketika warna laut berubah NASA di wilayah selatan Pasifik, tepatnya di sekitar Kepulauan Chatham, dekat Selandia Baru.
Kepulauan terpencil yang berjarak sekitar 800 kilometer dari ujung selatan Pulau Selatan Selandia Baru ini tiba-tiba menjadi pusat perhatian para ilmuwan iklim dan kelautan. Pada Januari 2026, citra satelit menunjukkan cincin raksasa berwarna hijau terang dan biru muda yang mengelilingi kepulauan tersebut, menciptakan pemandangan yang dramatis dan langka.
Mengapa Warna Laut Berubah Drastis?
NASA menjelaskan bahwa warna cerah yang menyelimuti perairan Kepulauan Chatham merupakan hasil dari “mekar” atau ledakan populasi fitoplankton. Fitoplankton adalah organisme laut mikroskopis yang memiliki kemampuan berfotosintesis, mirip seperti tumbuhan di daratan.
Ledakan fitoplankton ini biasanya terjadi secara masif setiap musim panas di belahan bumi selatan Khatulistiwa. Organisme ini mengandung klorofil, pigmen hijau yang sama seperti pada tumbuhan, sehingga ketika jumlahnya meledak, ia mampu mengubah warna air laut secara signifikan.
Fenomena ini berhasil ditangkap oleh perangkat Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) yang terpasang pada satelit NOAA-20 milik NASA. VIIRS dirancang khusus untuk memantau perubahan warna permukaan laut, memberikan data krusial mengenai kesehatan ekosistem laut global.
Pusaran Arus Pemicu Perubahan Warna Lautan
Perubahan warna lautan menjadi semakin dramatis karena peran arus permukaan dan pusaran laut. Arus-arus ini membawa miliaran organisme mikroskopis tersebut berputar-putar dalam pola melingkar, menciptakan cincin warna yang terlihat jelas dari luar angkasa.
Para peneliti menggarisbawahi bahwa lokasi Kepulauan Chatham yang unik menjadikannya salah satu lokasi utama bagi terjadinya fenomena fitoplankton ini. Kepulauan tersebut berdiri di atas Chatham Rise, sebuah dataran tinggi bawah laut yang memanjang hingga ke daratan Pulau Selatan Selandia Baru.
Struktur geografis Chatham Rise sangat vital. Puncak dari dataran tinggi ini bertindak sebagai “tembok” alami yang memisahkan massa air. Di bagian utara, air laut cenderung lebih hangat, sementara di bagian selatannya air laut jauh lebih dingin.
Habitat Ideal untuk Ledakan Fitoplankton
Pemisahan dan percampuran kedua jenis air laut—hangat dan dingin—menghasilkan kondisi habitat yang sempurna untuk mendukung populasi fitoplankton yang sangat besar. Proses pencampuran ini membawa nutrisi dari dasar laut ke permukaan, sebuah proses yang dikenal sebagai upwelling.
Nutrisi yang kaya, ditambah dengan sinar matahari yang melimpah selama musim panas, memicu pertumbuhan fitoplankton secara eksponensial. Ledakan fitoplankton ini, atau yang sering disebut *bloom*, merupakan indikator penting dari produktivitas ekosistem laut di wilayah tersebut.
Selain berfungsi sebagai dasar rantai makanan, fitoplankton juga memainkan peran krusial dalam siklus karbon global. Mereka menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar melalui fotosintesis, menjadikannya salah satu mekanisme alami Bumi untuk mengatur iklim.
Dampak Ekologis Fenomena Alam Laut
Kehadiran gerombolan fitoplankton dalam jumlah besar secara otomatis menarik populasi ikan pemakan plankton. Area di sekitar Kepulauan Chatham pun berubah menjadi kantong makanan raksasa di tengah samudra Pasifik.
Selanjutnya, ikan karnivora dan hewan laut yang lebih besar berkumpul untuk mencari sumber makanan yang melimpah. Wilayah ini dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, didukung oleh rantai makanan yang dimulai dari organisme sekecil fitoplankton.
Catatan menunjukkan bahwa sekitar 25 spesies paus dan lumba-lumba, serta 5 spesies singa laut, sering ditemukan di perairan Kepulauan Chatham. Fenomena alam laut yang terekam oleh NASA ini menegaskan betapa kompleks dan dinamisnya ekosistem yang berada jauh di bawah permukaan air.