Uptodai.com - Krisis energi nasional Indonesia menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai jika konflik geopolitik global terus memanas hingga memicu pecahnya perang dunia. Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap impor minyak mentah membuat posisi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan pasokan di pasar internasional.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memberikan peringatan keras mengenai kondisi ketahanan energi dalam negeri saat ini. Menurutnya, gangguan pada rantai pasok global akan berdampak langsung pada ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bagi masyarakat luas.

Bhima menilai bahwa cadangan energi yang dimiliki Indonesia saat ini masih berada dalam kategori rentan dan belum cukup kuat menghadapi situasi darurat. Kondisi inilah yang memicu kekhawatiran bahwa stok BBM bisa mendadak langka jika jalur perdagangan internasional terganggu akibat peperangan.

Ketergantungan Impor Minyak Jadi Titik Lemah

Pemerintah selama ini berupaya memperkuat ketahanan energi dengan merencanakan peningkatan cadangan minyak hingga mencukupi kebutuhan selama tiga bulan ke depan. Namun, Bhima berpendapat bahwa menambah volume cadangan energi saja bukan merupakan solusi jangka panjang yang efektif bagi Indonesia.

Akar masalah utama yang dihadapi bangsa ini adalah besarnya volume impor minyak yang terus membebani anggaran negara dan stabilitas pasokan. Fluktuasi harga minyak dunia yang tidak menentu membuat krisis energi nasional Indonesia bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan yang cukup.

Ketergantungan pada pasar luar negeri menyebabkan kedaulatan energi kita sangat dipengaruhi oleh kebijakan negara lain serta situasi keamanan global. Jika perang meletus, jalur distribusi minyak akan terhambat dan harga akan melambung tinggi melampaui kemampuan fiskal negara.

Percepatan Transisi Energi Sebagai Solusi Mutlak

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah perlu segera melakukan percepatan elektrifikasi pada sistem transportasi nasional secara masif. Langkah ini dianggap lebih efektif daripada sekadar menimbun cadangan minyak yang tetap bersumber dari hasil impor luar negeri.

Bhima mendorong otoritas terkait untuk memperluas jangkauan transportasi publik berbasis listrik, seperti pengadaan bus listrik di kota-kota besar. Transformasi ini harus dilakukan secara konsisten agar ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi berbahan bakar fosil dapat berkurang drastis.

Penyediaan transportasi umum yang murah, nyaman, dan ramah lingkungan akan mendorong masyarakat untuk beralih secara sukarela dari kendaraan berbahan bakar minyak. Strategi ini secara otomatis akan menurunkan permintaan BBM nasional dan memperkuat struktur ekonomi domestik dari tekanan global.

Belajar dari Kemandirian Energi Jepang

Sektor pembangkit listrik juga memegang peranan krusial dalam mewujudkan kemandirian energi yang lebih tangguh di masa depan. Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan yang sangat melimpah, mulai dari tenaga surya, angin, hingga panas bumi yang belum tergarap optimal.

Bhima memberikan contoh nyata pada negara Jepang yang telah berhasil mengintegrasikan teknologi panel surya pada skala rumah tangga dengan total kapasitas mencapai 100 GW. Meskipun Jepang memiliki cadangan minyak untuk 254 hari, mereka tetap fokus memperbesar porsi energi terbarukan di dalam negeri.

Langkah tersebut membuktikan bahwa diversifikasi energi adalah kunci utama untuk bertahan di tengah ketidakpastian situasi dunia yang kian memanas. Jika Indonesia tetap terpaku pada penggunaan minyak bumi, maka risiko krisis energi nasional Indonesia akan terus menghantui generasi mendatang.

Pemerintah diharapkan segera mengambil kebijakan berani untuk mengalihkan investasi dari sektor energi fosil menuju pengembangan infrastruktur energi bersih. Ketahanan energi yang rapuh hanya bisa diperbaiki dengan kemandirian dalam memproduksi energi sendiri tanpa harus bergantung pada pasokan negara lain.