Uptodai.com - Wacana mengenai potensi invasi darat AS ke Iran kini semakin menguat setelah Presiden Donald Trump memberikan sinyal hijau bagi pengerahan pasukan infanteri. Langkah agresif ini menyusul eskalasi serangan udara masif yang terus menggempur berbagai titik strategis di wilayah Iran dalam beberapa hari terakhir. Hingga Rabu (4/3/2026), situasi di lapangan menunjukkan dampak kerusakan yang sangat masif dan memprihatinkan.

Bulan Sabit Merah Iran melaporkan angka kematian yang terus melonjak drastis akibat gempuran rudal Amerika Serikat tersebut. Setidaknya 787 orang terkonfirmasi tewas, termasuk sebuah tragedi memilukan di Minab. Sebuah bom dilaporkan menghantam sekolah dasar perempuan yang mengakibatkan 165 siswi kehilangan nyawa seketika dalam insiden tersebut.

Di sisi lain, militer Amerika Serikat juga mulai merasakan dampak dari perlawanan balik yang diluncurkan oleh pihak Teheran. Enam tentara AS dilaporkan tewas dan 18 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan proyektil Iran yang menyasar aset strategis di kawasan Teluk. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengakui adanya celah dalam sistem pertahanan udara mereka yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Kebocoran Pertahanan Udara dan Respon Pentagon

Pete Hegseth menjelaskan bahwa meskipun sistem pertahanan udara AS bekerja keras, volume proyektil yang datang sangat besar. Ia menyebut ada istilah ‘squirter’ untuk proyektil yang berhasil lolos dari intersepsi dan menghantam target. Dalam insiden terbaru, satu proyektil berhasil menembus dan menghantam pusat operasi taktis militer Amerika Serikat.

Kegagalan teknis ini memicu evaluasi mendalam di internal Pentagon mengenai efektivitas payung udara mereka di Timur Tengah. Namun, kegagalan ini justru tampaknya memperkeras sikap Washington terhadap Teheran. Amerika Serikat kini bersiap untuk mengambil langkah yang jauh lebih ekstrem daripada sekadar serangan udara dari jarak jauh.

Presiden Donald Trump saat ini menolak untuk menutup pintu bagi kemungkinan pengiriman pasukan darat ke wilayah Iran. Ketika para jurnalis menanyakan kepastian mengenai invasi infanteri, Trump memberikan jawaban yang sangat terbuka. “Saya tidak akan pernah mengatakan tidak pernah. Kita akan melakukan apa pun yang diperlukan,” tegas Trump di hadapan media.

Debat Konstitusi dan Status Perang Tanpa Mandat

Langkah militer yang semakin intensif ini memicu perdebatan panas di kalangan pakar hukum dan ilmu politik Amerika Serikat. Masalah utamanya terletak pada status tindakan militer ini yang dilakukan tanpa mandat resmi dari Kongres. David Schultz, profesor ilmu politik dari Hamline University, menyoroti adanya pertentangan antara Pasal I dan Pasal II Konstitusi AS.

Schultz menjelaskan bahwa Pasal I memberikan wewenang eksklusif kepada Kongres untuk mendeklarasikan perang secara resmi. Namun, Pasal II memberikan kekuasaan kepada Presiden sebagai panglima tertinggi untuk merespons ancaman mendesak secara cepat. Menurutnya, sejarah mencatat bahwa presiden AS sering menyeret negara ke dalam konflik besar tanpa deklarasi resmi.

Profesor Paul Quirk dari University of British Columbia menambahkan bahwa definisi serangan ini akan berubah seiring berjalannya waktu. Jika aksi militer ini hanya berlangsung singkat, publik mungkin hanya akan menyebutnya sebagai serangan udara biasa. Namun, jika operasi ini berlanjut hingga berminggu-minggu, maka secara praktik ini sudah menjadi perang penuh.

Ambisi Trump Melenyapkan Program Nuklir Iran

Pemerintah Amerika Serikat berdalih bahwa seluruh rangkaian serangan ini memiliki satu tujuan utama yang sangat spesifik. Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menghancurkan program nuklir Iran secara total dan permanen. Ia menganggap fasilitas nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial yang tidak bisa lagi ditoleransi oleh dunia internasional.

Selain melakukan serangan fisik, Trump juga terus melakukan provokasi politik dengan menyerukan rakyat Iran untuk bangkit. Situasi ini diprediksi akan mengganggu stabilitas ekonomi global, terutama pada sektor pasokan energi dunia. Banyak pihak khawatir bahwa potensi invasi darat AS ke Iran akan memicu perang regional yang lebih luas di Timur Tengah.

Dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari Gedung Putih sementara ketegangan terus berada di titik didih. Jika invasi darat benar-benar terjadi, maka peta geopolitik dunia akan mengalami pergeseran yang sangat signifikan. Komunitas internasional mendesak adanya deeskalasi sebelum korban sipil semakin banyak berjatuhan di kedua belah pihak.