Uptodai.com - Antisipasi dampak El Nino menjadi prioritas utama para petani di berbagai wilayah Indonesia guna menghindari risiko gagal panen akibat kekeringan ekstrem. Langkah cepat ini merespons peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi musim kemarau akan datang lebih awal tahun ini. Berdasarkan data terbaru, hampir separuh wilayah tanah air diprediksi memasuki masa kering mulai April mendatang.

Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Agroekologi dan Perbenihan Serikat Petani Indonesia (SPI), Kusnan, mengungkapkan bahwa kewaspadaan tinggi kini menyelimuti komunitas petani. Pihaknya menginstruksikan percepatan masa tanam selagi curah hujan masih tersedia di sisa bulan Maret. Strategi ini bertujuan agar tanaman padi mencapai fase panen sebelum puncak kemarau melanda pada Agustus nanti.

Strategi Percepatan Masa Tanam Padi

Para petani kini berpacu dengan waktu untuk melakukan percepatan masa tanam padi demi mengamankan stok pangan nasional. Jika biasanya penanaman baru dimulai pada akhir April, kini jadwal tersebut dimajukan ke awal Maret. Langkah berani ini diambil agar tanaman sudah melewati fase vegetatif yang membutuhkan banyak air sebelum debit irigasi menyusut.

Kusnan menjelaskan bahwa fase vegetatif merupakan masa paling krusial bagi pertumbuhan padi yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Dengan memulai lebih awal, padi diharapkan sudah masuk masa panen saat kekeringan mencapai puncaknya. Petani berharap sisa-sisa air hujan di bulan ini mampu mencukupi kebutuhan awal persemaian hingga penanaman bibit baru.

Beralih ke Tanaman Palawija yang Hemat Air

Selain mempercepat jadwal, petani juga mulai menerapkan pola tanam alternatif di lahan-lahan yang memiliki keterbatasan akses irigasi. Mereka tidak lagi memaksakan menanam padi pada musim tanam kedua (MT II) jika pasokan air dirasa meragukan. Sebagai gantinya, tanaman palawija seperti jagung atau kedelai menjadi pilihan utama karena sifatnya yang jauh lebih hemat air.

Peralihan ke palawija ini khususnya dilakukan oleh para pemilik lahan tadah hujan yang sangat bergantung pada cuaca. Keputusan ini dianggap lebih realistis daripada menghadapi risiko gagal panen total akibat kekurangan pasokan air irigasi. Manajemen risiko ini menjadi kunci agar petani tetap produktif meski di tengah ancaman fenomena iklim El Nino.

Manajemen Air dan Kesiapan Infrastruktur Irigasi

Kondisi waduk dan embung di sejumlah wilayah strategis saat ini dilaporkan masih berada dalam level aman untuk mencukupi kebutuhan jangka pendek. Namun, SPI menekankan pentingnya disiplin tinggi dalam penerapan sistem gilir giring atau pembagian air secara bergantian. Pengelolaan air yang ketat menjadi satu-satunya cara untuk bertahan jika kemarau berlangsung lebih dari enam bulan.

Tantangan terbesar muncul ketika debit air di saluran irigasi tersier mulai menyusut drastis akibat penguapan yang tinggi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, kelompok tani mulai menyiagakan mesin-mesin pompa air di sepanjang aliran sungai permukaan. Perawatan rutin pada alat mesin pertanian ini dilakukan agar berfungsi optimal saat dibutuhkan untuk menyedot air ke area persawahan.

Meskipun berbagai langkah mitigasi telah disiapkan, potensi penurunan produksi pangan tetap membayangi sektor pertanian tahun ini. Jika kemarau berlangsung lebih kering dari kondisi normal, produksi padi diperkirakan bisa merosot antara 10 hingga 20 persen. Penurunan ini terutama mengancam wilayah-wilayah yang belum memiliki sistem irigasi teknis yang memadai dan mandiri.