Status Harga Pangan Waspada Jelang Ramadan, Beras di Zona 3
Uptodai.com - Status harga pangan waspada jelang Ramadan kini menjadi perhatian serius pemerintah, terutama menjelang peningkatan permintaan musiman. Meskipun secara umum kondisi pasokan pangan strategis diklaim masih terkendali, beberapa komoditas menunjukkan sinyal merah yang memerlukan intervensi cepat.
Plt Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan Kantor Staf Presiden (KSP), Popy Rufaidah, menegaskan bahwa pemantauan ketat harus dilakukan. Komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, dan khususnya beras medium, sangat sensitif terhadap perubahan cuaca dan efisiensi rantai distribusi.
Komoditas Beras Medium Menjadi Sorotan Utama
Beras medium menjadi indikator utama yang mencerminkan ketimpangan harga antar wilayah di Indonesia. Data KSP per 23 Januari 2026 menunjukkan adanya disparitas harga yang signifikan, membagi wilayah pengawasan menjadi tiga zona utama.
Zona 1, yang biasanya mencakup wilayah sentra produksi atau wilayah dengan akses logistik terbaik, masih berada dalam kondisi aman. Harga rata-rata beras medium di zona ini tercatat Rp13.433 per kg. Angka ini sedikit di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp13.500, meskipun terjadi kenaikan bulanan tipis sebesar 0,18%.
Sayangnya, kondisi mulai berubah drastis saat memasuki Zona 2. Di wilayah ini, harga beras medium sudah masuk kategori waspada, mencapai Rp14.399 per kg. Harga tersebut sudah sekitar 2,86% di atas HET yang ditetapkan, yakni Rp14.000, meskipun kenaikan bulanannya masih relatif kecil.
Kondisi terberat dan paling mengkhawatirkan terjadi di Zona 3. Di wilayah ini, rata-rata harga beras medium melonjak hingga Rp18.475 per kg. Angka ini jauh di atas HET yang dipatok Rp15.500, atau sekitar 19,2% di atas batas maksimal yang diizinkan pemerintah.
Distribusi Beras Medium Tidak Merata
Popy Rufaidah menekankan bahwa lonjakan harga di Zona 3 bukan disebabkan oleh kurangnya ketersediaan beras secara nasional. Stok beras nasional dianggap cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Akar permasalahan utama terletak pada efektivitas dan akses logistik yang belum merata di berbagai daerah. Sulitnya akses dan tingginya biaya transportasi di wilayah timur atau kepulauan sering kali menjadi pemicu utama mahalnya harga, yang membuat distribusi beras medium tidak merata.
Meskipun terdapat koreksi harga bulanan di Zona 3 sebesar 0,95%, kondisi harga yang jauh di atas HET tetap menunjukkan bahwa wilayah tersebut masih belum stabil. Pengawasan dan intervensi logistik menjadi kunci untuk menekan harga di zona-zona merah ini.
Ancaman Kenaikan Harga Protein Hewani
Selain beras, tekanan harga juga datang dari sektor protein hewani, khususnya telur ayam ras. Harga telur ayam ras secara nasional masih berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah.
Per 23 Januari 2026, harga telur ayam ras tercatat sekitar Rp33.800 per kg. Angka ini sekitar 12,7% di atas HAP sebesar Rp30.000. Walaupun secara bulanan harga telur sudah menunjukkan penurunan tipis sebesar 2,59%, kondisi ini tetap membebani daya beli masyarakat.
Tingginya harga telur ini memiliki kaitan erat dengan mahalnya harga jagung pakan ternak. Jagung merupakan komponen biaya produksi terbesar bagi peternak ayam petelur.
Saat ini, harga jagung di tingkat peternak masih berada di kisaran Rp7.000 per kg, atau lebih dari 20% di atas harga acuan. Disparitas harga jagung antar daerah juga cukup besar, mencapai 14,23%. Pemerintah perlu segera mengantisipasi ketersediaan dan stabilitas harga jagung pakan agar tidak menjadi beban berkelanjutan bagi peternak dan pada akhirnya menstabilkan harga telur menjelang bulan suci.