Uptodai.com - Rumor mengenai keterlibatan kepentingan politik dalam industri hiburan digital kembali memanas setelah munculnya pengakuan mengejutkan terkait konflik Iran dan Israel di Call of Duty. Chance Glasco, salah satu pendiri studio legendaris Infinity Ward, membeberkan rahasia lama mengenai tekanan yang diterima timnya dari pihak penerbit.

Melalui unggahan di platform X, Glasco mengungkapkan bahwa Activision pernah mendesak pengembang untuk mengangkat tema peperangan nyata tersebut. Rencana ini kabarnya muncul saat tim sedang mempersiapkan sekuel besar yang diduga kuat adalah Modern Warfare 3 yang rilis pada 2011 silam. Namun, ambisi besar dari pihak manajemen tersebut akhirnya menemui jalan buntu karena penolakan keras dari internal pengembang.

Penolakan Tim Pengembang Infinity Ward

Glasco menjelaskan bahwa mayoritas pengembang di Infinity Ward merasa tidak nyaman jika harus mengeksploitasi konflik dunia nyata yang masih sensitif. Mereka menilai bahwa menjadikan perseteruan antara Iran dan Israel sebagai pusat cerita adalah langkah yang terlalu berisiko. Para kru merasa muak dengan gagasan tersebut karena ingin menjaga integritas kreatif permainan tanpa harus terjebak dalam agenda geopolitik tertentu.

Keputusan untuk menolak ide tersebut didasari oleh keinginan tim untuk tetap fokus pada narasi yang lebih universal. Meskipun seri Call of Duty sering mengambil inspirasi dari ketegangan global, para pengembang lebih memilih menggunakan negara fiktif sebagai latar tempat. Hal ini dilakukan untuk menghindari kontroversi berlebih yang dapat memicu sentimen negatif di berbagai belahan dunia.

Kaitan dengan Propaganda Gedung Putih

Pernyataan Glasco ini mencuat ke publik tak lama setelah Gedung Putih menggunakan cuplikan permainan Call of Duty dalam sebuah presentasi. Rekaman tersebut digunakan untuk memberikan ilustrasi mengenai operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Penggunaan aset digital ini memicu perdebatan luas mengenai batasan antara hiburan dan alat propaganda militer.

Menanggapi fenomena tersebut, Glasco mengaku tidak terkejut melihat karyanya digunakan untuk kepentingan politik tertentu. Ia menyadari bahwa realisme yang diusung dalam seri Call of Duty sering kali disalahgunakan oleh pihak-pihak luar. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa visi awal timnya jauh berbeda dari apa yang sering ditampilkan dalam narasi propaganda saat ini.

Visi Kelam Perang dalam Versi Orisinal

Pada masa awal pengembangan seri Call of Duty, Infinity Ward sebenarnya ingin menyampaikan pesan moral yang mendalam tentang kekejaman perang. Glasco menyebutkan bahwa misi-misi kontroversial, seperti “No Russian” di Modern Warfare 2, dirancang untuk membuat pemain merasa tidak nyaman. Mereka ingin mengingatkan publik bahwa peperangan adalah sesuatu yang mengerikan dan penuh dengan sisi gelap.

Tim pengembang sengaja menyisipkan elemen-elemen yang memicu rasa jijik agar pemain menyadari bahwa apa yang mereka mainkan bukan sekadar hiburan kosong. Pesan anti-perang ini tersebar di sepanjang seri awal yang digarap oleh tangan-tangan orisinal Infinity Ward. Namun, seiring berjalannya waktu, arah pengembangan game ini tampaknya mulai bergeser mengikuti permintaan pasar dan tekanan industri.

Meskipun beberapa negara nyata seperti Afghanistan pernah muncul dalam seri Modern Warfare 2 (2009) dan Black Ops (2010), pendekatannya tetap berbeda. Pengembang selalu berusaha menjaga jarak agar cerita yang disajikan tidak menjadi pemantik konflik baru di dunia nyata. Hingga saat ini, pengakuan Glasco menjadi pengingat penting tentang betapa besarnya tekanan politik yang harus dihadapi oleh para kreator di balik layar industri video game global.