Uptodai.com - Program budidaya bawang putih Sembalun yang diprakarsai Satgas Pangan Polri menjadi bukti nyata bahwa Indonesia mampu mematahkan stigma ketergantungan impor komoditas rempah ini. Langkah strategis ini diambil guna menekan angka impor bawang putih nasional yang selama ini mencapai lebih dari 90 persen dari total kebutuhan pasar domestik. Penanaman yang terpusat di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat ini terbukti memberikan hasil panen yang sangat memuaskan.

Upaya ini selaras dengan instruksi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang menargetkan pencapaian swasembada pangan nasional secara menyeluruh sejak akhir tahun 2024. Mantan Kasatgas Pangan Polri yang kini menjabat Kapolda Lampung, Irjen Pol. Helfi Assegaf, secara langsung mengawal perkembangan proyek ketahanan pangan ini. Sinergi intensif dilakukan bersama Kelompok Tani Pusuk Pujata demi memastikan efektivitas serta keberlanjutan produksi di lapangan.

Kecamatan Sembalun dipilih karena memiliki karakteristik tanah vulkanik di kaki Gunung Rinjani serta iklim mikro yang sangat ideal bagi pertumbuhan varietas hortikultura. Ketersediaan hara yang tinggi serta suhu udara sejuk menjadikan kawasan ini sebagai sentra agribisnis potensial yang selama ini kurang dimaksimalkan secara masif. Melalui intervensi teknologi pertanian modern dan pendampingan berkelanjutan, produktivitas lahan dapat digenjot secara optimal.

Perkembangan Luas Lahan dan Produksi Bawang Putih

Inisiasi penanaman bawang putih Lombok ini dimulai pada tahun 2025 dengan menggarap lahan seluas 15 hektare sebagai percontohan awal. Memasuki bulan Juli 2026, area tanam melonjak drastis hingga mencapai 534 hektare dengan mengandalkan varietas unggul Sangga Sembalun dan Lumbu Putih. Hasilnya, tingkat produktivitas rata-rata petani melonjak hingga mencapai 20 sampai 25 ton per hektare.

Pada puncak panen raya di lahan seluas 105 hektare, progres pemetikan dilaporkan telah mencapai 76 persen atau sekitar 73,5 hektare dengan total volume produksi sebesar 1.470 ton. Hasil panen yang berlimpah tersebut langsung diolah menggunakan dua fasilitas lantai jemur utama serta jejaring lantai jemur milik mitra kelompok tani. Penanganan pascapanen yang ketat ini bertujuan untuk menjaga tingkat kadar air dan kualitas komoditas agar mampu bersaing dengan produk impor.

Memperkuat Kemandirian Pangan di Tengah Tantangan Global

Keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi cetak biru bagi daerah lain dalam memproduksi komoditas pangan secara mandiri. Ketergantungan pada rantai pasok global yang rentan terhadap dinamika geopolitik dunia membuat penguatan sektor pertanian lokal menjadi prioritas yang mendesak. Melalui pendampingan Polri dan keahlian para petani lokal, kemandirian pangan Indonesia dapat diwujudkan secara konsisten.

Selain meningkatkan stok nasional, keberhasilan panen di Sembalun ini juga berdampak positif pada peningkatan kesejahteraan ekonomi para petani setempat. Dengan harga jual yang lebih stabil dan kepastian pasar, dorongan modal kerja serta sarana produksi dari pemerintah akan semakin menggairahkan sektor agribisnis daerah. Sinergi lintas lembaga ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki kapasitas penuh untuk lepas dari jerat impor komoditas pangan utama.